Dosen FPIK UTU Rancang Rumpon Ijuk Untuk Nelayan
  • UTU News
  • 17. 09. 2018
  • 0
  • 515

MEULABOH – Hafinuddin, M.Sc, salah seorang Dosen Fakultas Perkinan dan Ilmu Kelautan-Universitas Teuku Umar (FPIK-UTU) telah merancang penggunaan atraktor rumpon ijuk sebagai alat bantu penangkapan ikan bagi nelayan Kabupaten Nagan Raya.

Penggunaan atraktor rumpon ijuk sebagai percontohan untuk nelayan di Kabupaten Nagan Raya, dilakukan dengan menggunakan dana hibah program kemitraan masyarakat (PKM) dari Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) 2018. “Rumpon atraktor ijuk telah disosialisasikan dan kami berikan kepada kelompok nelayan jaring insang di Desa Kuala Trang, Kecamatan Kuala Pesisir Kabupaten Nagan Raya. Selanjutnya akan kami sosialisasikan juga kegunaan rumpon ijuk itu kepada seluruh nelayan yang ada di Aceh," ujar Hafinuddin.

Kegiatan ini dilakukan secara bersama-sama tim pelaksana  yang terdiri dari Hafinuddin, SPi, MSc, Dr Edwarsyah, SP, MP, Dr Muhammad Rizal, SPi, MSi, dengan melibatkan tenaga ahli bidang kelautan yaitu Sayid Geubry Al Farisi, S.IK dan dibantu oleh mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UTU Abdul Karim dari keluarga nelayan Desa Kuala Trang Kabupaten Nagan Raya. Hafinuddin yang juga Wakil Dekan II FPIK itu, telah merekomendasikan penggunaan atraktor rumpon ijuk sebagai alat bantu penangkapan ikan bagi nelayan karena dapat memberikan nilai ekonomis yang lebih tinggi dibandingkan rumpon dengan atraktor menggunakan daun kelapa atau daun pinang seperti yang digunakan nelayan Aceh selama ini.

Disamping itu,  biaya pembuatan rumpon atraktor ijuk relatif lebih murah dibandingkan rumpon atraktor daun pinang atau daun kelapa. Bahkan, biaya perawatan rumpon atraktor ijuk lebih kecil dari rumpon atraktor daun pinang atau daun kelapa, ujarnya. Menurut Hafinuddin, pembuatan atraktor rumpon ijuk itu, dilakukan berdasarkan  hasil penelitian yang dilakukan pada 2016 bersama Mahendra di perairan laut Meulaboh. Dan bisa terbukti memberikan alternatif teknologi baru dalam bidang alat bantu penangkapan ikan bagi nelayan.  Hafinuddin menjelaskan, rumpon ijuk yang bisa digunakan oleh nelayan itu, dirancang dari empat komponen yaitu, pelampung (float), tali (rope), pengumpul ikan (attractor) dan pemberat (anchor). “Yang beda hanya pada komponen inti rumpon yang telah dimodifikasi yaitu atraktor sebagai pengumpul/pemikat ikan dengan menggunakan bahan ijuk, bukan daun kelapa atau daun pisang”, kata Hafinuddin.

Diharapkan, hendaknya teknologi penangkapan ikan dengan menggunakan rumpon ataktor ijuk dapat dimanfaatkan oleh nelayan, karena dapat memberi dampak kepada peningkatan pendapatan dan memberi keahlian baru bagi nelayan dalam pembuatan rumpon sebagai penemuan baru untuk nelayan,  ujar Hafinuddin, seorang dosen yang memiliki spesialisasi tentang teknologi penangkapan ikan. Dan manfaat penggunaan rumpon ijuk sebagai alat bantu penangkapan ikan adalah untuk meningkatkan efesiensi penangkapan, meningkatkan hasil tangkapan dan meminimumkan biaya penangkapan ikan terutama mengenai Bahan Bakar Minyak (BBM), ujar Hafinuddin yang juga anggota organisasi ASIAN Fisheries Society (AFS).

Hafinuddin melihat selama ini nelayan Aceh umumnya masih menggunakan rumpon yang pemikatnya dari bahan daun kelapa dan daun pinang. Namun, rumpon dari atraktor daun kelapa itu cepat rusak dan paling bisa  bertahan dua bulan atau delapan minggu. Hal ini bisa menyebabkan nelayan mengeluarkan biaya hingga Rp 1,5 juta  setiap penggantian, sebut Hafinuddin.(Muzakkir)

Lainnya :