Rektor UTU Terus Berjuang Untuk Penambahan Kuota Bidikmisi Bagi Mahasiswa
  • UTU News
  • 04. 10. 2018
  • 0
  • 518

MEULABOH –  Rektor UTU, Prof. Jasman terus berjuang  untuk mendapatkan bantuan biaya Bidikmisi supaya  kuota bertambah bagi mahasiswa yang kuliah di Universitas Teuku Umar (UTU). Penyediaan Biaya Pendidikan Mahasiswa Miskin Berprestasi (Bidikmisi) tujuannya untuk meningkatkan pemerataan kesempatan dalam memperoleh pendidikan bagi putra-putri yang melanjutkan kuliah ke universitas.

Rektor Universitas Teuku Umar (UTU), Prof. Dr. H. Jasman J. Ma`ruf, SE,MBA menegaskan hal itu ketika membuka kegiatan Matrikulasi dan Pembinaan Mahasiswa Penerima Bidikmisi Angkatan 2018, di Auala Utama UTU, pada 3 dan 4 Oktober 2018. Usai memberikan arahan dan sambutan pada pembukaan matrikulasi, Prof. Jasman juga menyesihkan waktunya untuk memberikan materi kepada mahasiswa penerima Bidikmisi yang bertema, “Mempersiapkan masa depan”.

Pemateri Matrikulasi dan Pembinaan Mahasiswa Bidikmidi adalah  Rektor, Prof. Dr. H. Jasman J. Ma`ruf, SE.,MBA , Dr. T. Ahamad Yani, SH.,M.Hum (Wakil Rektor III UTU), Ibu Hj. Afnizar Sabriaty, SE.,M.Si (Kepala Bagian  Kemahasiswaan UTU), dan Muhammad Idris M.Pd (Kasubbag Kemahasiswaan UTU)

“Kami juga sudah mengirimkan surat kepada Gubernur Aceh, kepada para bupati dan  walikota umumnya yang berada di Barat Selatan Aceh agar dapat berkonstribusi untuk membantu membiayai mahasiswa Bidikmisi UTU, demi putra-putri  kita melanjutkan kuliah dalam memperoleh ilmu pengetahuan untuk kesejahteraan hidup di masa depan”, ujar Prof. H. Jasman. 

Prof. Jasman berharap kepada Gubernur Aceh, dan kepada para bupati dan walikota  supaya dapat membantu menyediakan anggaran kepada mahasiswa yang belum mendapatkan Bidikmisi di UTU ini. Sebagian besar bupati dan walikota  menjawab akan membantu menganggarkan  biaya Bidikmisi untuk tahun depan bagi mahasiswa Universitas Teuku Umar (UTU).

Menurut Prof. Jasman,  di Negara Prancis perguruan tinggi  tidak bayar SPP, di Jerman gratis masuk kuliah. Negara mereka kaya. Sedangkan kita  miskin dan  biaya kuliah mahal. Salah satu solusi untuk mengantisipasi mahalnya biaya kuliah, pemerintah menyadiakan program Bidikmisi agar warga yang tidak mampu, namum memiliki potensi yang bagus  diberi kesempatan untuk mendapatkan biaya Bidikmisi. “Yang sangat disayangkan penyediaan Bidikmisi sangat terbatas. “Kalian termasuk anak muda yang beruntung. Tahun 2018 ini yang lulus jalur Bidikmisi lebih 1000 orang, tapi yang dapat kuota dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Indonesia hanya 250 orang”, ujar Prof. Jasman.

Dalam kesempatan itu, Prof. Jasman mengatakan,  untuk mencapai kualitas hidup manusia harus memulai dengan pendidikan.  Untuk memperoleh kesejahteraan harus dimulai dengan kecerdasan. Kecukupan modal dalam hidup, dapat dilihat dari ilmu pengetahuan yang dimiliki, semangat yang dimiliki. Namun, Ini semua tidak bisa muncul secara tiba-tiba tapi harus melalui proses. Prosesnya adalah pendidikan. Oleh karena itu, akses pendidikan yang merupakan kunci kemajuan suatu bangsa diharapkan kepada  semua warga negara untuk  memiliki modal dalam hidupnya.

Masalahnya sekarang, tambah Prof. H. Jasman, selama ini akses tersebut begitu sempit, karena perguruan tinggi semakin hari semakin mahal. Biaya hidup juga semakin mahal, sementara peluang usaha semakin sempit. Di Indonesia ini lebih dari 15 persen penduduknya miskin. di Aceh lebih dari 17 persen penduduknya miskin. Karena miskin, maka akses untuk masuk  perguruan tinggi tertutup akibat mahalnya biaya kuliah. “UTU satu-satunyan universitas yang biaya kuliahnya paling murah di dunia ini. Makanya, kita mengambil langkah dan berjuang untuk agar penyediaan Bidikmisi terus meningkat dengan tujuan  siapapun warga negara untuk bisa mendapatkan celah masuk perguruan tinggi untuk  menjadi sarjana”, ujar Prof. Jasman.

Muhammad Idris menjelaskan, penerima Bidikmisi UTU sampai saat ini sudah mencapai 1.306 orang mahasiswa. Tujuan matrikulasi adalah untuk memberikan pemahaman tentang kebidikmisian dan bagaimana cara mempersiapkan masa depan, belajar cepat dan tuntas, motivasi belajar dan pentingnya organisasi Formadiksi dalam pembangunan Kampus UTU. (Zakir)

Lainnya :